Kejelian melihat peluang usaha membuat pemuda ini meraup omset miliaran rupiah dalam setahun,hanya dari jangkrit.Namanya Bambang Setiawan, pemuda 28 tahun asal Cirebon. Latar belakang pendidikannya sama sekali tidak ada hubungannya dengan bisnis yang kini melambungkan namanya.Dia adalah Alumni
Teknik Sipil Insitut Teknologi Bandung.Namiun dari bisnis jangkrik yang kini di jalnkannya, mampu meraup omzet sekitar Rp
10 juta-Rp 14 juta per hari.
Ide membuka usaha jangkrik berawal ketika dia melihat produksi jangkrik sedang labil di pasaran,bahkan terkadang permintaan pasar lebih besar sementara jangkrik tidak ada.Hal inilah yang membuat Bambang Setawan menekuni bisnis jangkrik ini bahkan dia meninggalkan usahanya yang lain demi membangun kerajaan jangkrik miliknya.
Dengan modal awal Rp.7 juta pada awal tahun 2010 Bambang membeli 250 kilogram jangkrik yang dibagi ke dalam 50 kotak di tambah 2,5 kilogram jangkrik.Pada tahun 2014 lalu di mencapi omset penjualan sebesar 4 milar.Dengan usaha yang di jalani saat ini Bambang behasil mempekerjakan 65 karyawan di daerahnya.
Bambang tidak menikmati usaha sendiri, dia juga baik hati mau membagi ilmunya kepada orang laindi sekitarnya dengan memotivasi dan melatih warga budidaya jangkrik. Alhasil,
Bambang menjadi ketua kelompok peternak jangkrik terbesar di Cirebon.
"Kebetulan tahun itu di desa saya banyak orang menganggur akibat
bangkrutnya perusahaan rotan. Sehingga bisnis ini saya jalani sekaligus
membuka lapangan kerja."
Sayang, tak semua warga desa langsung bersedia membantunya beternak
jangkrik lantaran dianggap tak prospektif. Ditambah bisnis jangkriknya
tak kunjung ekspansif.
"Pada 2011 bisnis saya sempat error, karena produk saya ini masih
terkenal baru di desa. Belum lagi, ternak jangkrik diperlukan pemahaman
budidaya sendiri," ungkapnya.
Dia kemudian memotivasi dan melatih warga budidaya jangkrik. Alhasil,
Bambang menjadi ketua kelompok peternak jangkrik terbesar di Cirebon.
Dalam lima tahun, Bambang bisa memproduksi 200 kilogram jangkrik alam
dan 8 kilogram telur jangkrik per hari. Wilayah penjualannya pun sudah
meluas hingga sebagian besar Jawa.
Bambang menjual jangkrik hidup seharga Rp 45 ribu-Rp 50 ribu per
kilogram. Sementara telur jangkrik dibanderol Rp 400 ribu-Rp 450 ribu
per kilogram.
"Karena banyak pegawai sudah mandiri, jadi sekarang saya hanya fokus
kepada pemasaran saja. Karena semakin ke sini, harganya semakin
kompetitif."
Sumber Merdeka.com

No comments:
Post a Comment