Sering muncul pertanyaan di kalangan masyarakat yang ingin berusaha,apakah pengusaha itu bawaan sejak lahir atau bisa di ciptakan sendiri?
Kalau menurut saya sih keduanya benar? Mengapa keduanya benar,karena keduanya bukan matematika bilaman 1=1 harus hasilnya 2.hehehe.
Bakat merupakan bawaan yang melekat Pada seorang anak sejak lahir.Sedangkan pengusaha diciptakan,maksudnya orang tua membekali anaknya dengan keterampilan dalam lingkungan yang baik pula.
Memang dulu berwirausaha dianggap sebagai bawaan,ketika ada orang sukses dalam berwirausaha maka orang berkesimpulan kalau memang dia berbakat dalam bisnis.Namun jaman sekarang berwirausaha sudah bisa dipelajari.Secara pribadi saya meyakini bahwa setiap anak yang dilahirkan ke muka bumi ini memiliki bakat dan potensi yang spesial.
Namun itu saja tidak cukup. Anak juga
harus diberikan berbagai macam ketrampilan yang dapat digunakan saat
nanti mulai menjalankan usahanya. Ketrampilan bukanlah ilmu pasti yang
bisa dipelajari di bangku sekolah, namun didapat dengan langsung
mempraktekkannya. Selain ketrampilan, mengasah mental pun sangat penting agar nantinya dia bisa bangkit saat menghadapi kegagalan.
Agar anak tidak manja serta bermalas-malasan maka seharusnya sejak dini perlu ditanamkan sikap bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya sehingga nantinya jika menjadi pengusaha,anak tidak cengeng.
Agar anak tidak manja serta bermalas-malasan maka seharusnya sejak dini perlu ditanamkan sikap bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya sehingga nantinya jika menjadi pengusaha,anak tidak cengeng.
Banyak negara maju yang telah mengajarkan kewirausahaan sejak dini. Sejak tahun 1970 di berbagai universitas terkemuka di Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa lainnya sudah diajarkan tentang konsep kewirausahaan. Pada tahun 1980-an, konsep tersebut mulai diperkenalkan sejak bangku sekolah, dan bukan lagi hanya di bangku kuliah. Sehingga wajar saja, negara-negara tersebut memiliki pengusaha yang berkualitas karena sudah dipersiapkan dengan baik dan terencana.
Faktor lingkungan juga berpengaruh dalam membentuk karakteristik anak untuk menjadi seorang pengusaha. Para orangtua selalu memberi nasihat yang sama bagi anak-anaknya, “Kamu harus rajin belajar ya, biar nanti kalau sudah besar bisa kerja di perusahaan yang bagus dan mendapat gaji yang besar.” Nasihat seperti ini akhirnya membentuk pola pikir sang anak untuk lebih memilih menjadi karyawan dibanding pengusaha.
Sistem pendidikan di Indonesia tidak mengajarkan kreativitas dan menumbuhkan jiwa kewirausahaan dengan baik. Kampus-kampus lebih banyak menciptakan para pencari kerja dibanding pembuat lapangan kerja. Setiap tahunnya, jumlah orang yang berbaris untuk mendapat pekerjaan selalu bertambah dari tahun sebelumnya.
Saya pribadi berpendapat bahwa justru pendidikan adalah sektor terpenting dalam menciptakan para pengusaha baru. Memang betul bahwa ada cerita tentang para pengusaha sukses yang tidak lulus kuliah atau bahkan drop out dari kampus, seperti Bill Gates, Steve Jobs, Michael Dell, Mark Zuckerberg, dll.
Namun yang tidak diketahui oleh orang banyak, ternyata mereka sudah melatih dirinya di luar kampus untuk menjadi seorang pengusaha handal. Mereka sudah membangun jejaring dari usia yang sangat muda dengan orang-orang yang berpotensi akan bekerjasama di masa depan. Sehingga, mereka bukan belajar di sekolah formal, melainkan sekolah jalanan.
Tentu tidak semua orang bisa seperti itu, maka dari itu dibutuhkan sistem pendidikan tentang kewirausahaan di bangku sekolah agar setiap anak sudah disiapkan menjadi pengusaha sejak dini. Hal ini penting karena seorang pengusaha tidak dibuat dalam waktu sekejap, melainkan melalui proses yang panjang sejak kecil.
Apa yang terjadi pada tahun-tahun pertama kehidupan Anda akan membuat perbedaan yang sangat berarti dalam tahapan berikutnya.
Maaf kak mau titip info Kisah Pengusaha Sukses Tanpa Gelar Sarjana
ReplyDelete